SEMBILAN KIAT MENJADI SUAMI TELADAN

SATU. Suami harus jujur, terus terang, dan bersikap terbuka. Sikap terbuka ini hendaknya dimulai sejak dia meminang calon istrinya. Saat meminang, calon suami tidak perlu menutupi kelebihan dan kekurangannya, misalnya dengan menyembunyikan penyakit tertentu yang dideritanya. Sikap ini menunjukkan kejujuran. Hal ini penting untuk menghindari kekecewaan di kemudian hari. Sifat jujur akan dibawa dalam kehidupan selanjutnya dan merupakan pangkal kebahagian.

Rasululah Saw. bersabda, “Apabila salah seorang di antara kami meminang seorang perempuan, sedangkan dia menyemir rambutnya dengan semir hitam, maka hendaknya dia memberi tahu pada perempuan yang dipinangnya bahwa ia menyemir rambutnya dengan semir hitam.”

Hadits ini menunjukkan bahwa masalah sekecil apapun kita harus jujur pada calon isteri agar jangan sampai terjadi penipuan terhadap dirinya yang akhirnya akan menjadi ganjalan dalam kehidupan selanjutnya.

DUA. suami harus lemah lembut dan berbuat baik dalam memperlakukan isteri. Ukuran lemah lembut adalah relatif untuk setiap orang, bergantung pada sifat, pembawaan, gaya bahasa yang berbeda pada setiap daerah dan bangsa. Sebagian orang Jawa biasa memanggil isterinya dengan sebutan “sayang, dik, umi, mama” dan sebagainya. Begitu juga isteri terhadap suami biasa memanggil “mas, abi, abah, papa” dan lain-lain. Berbeda dengan orang jawa, orang Arab biasanya memanggil langsung namanya, baik suami atau isteri. Di samping itu, para suami harus memuliakan isterinya, jangan meremehkannya. Sebab, seorang isteri telah melakukan hal-hal yang sukar dilakukan oleh suami, apalagi ketika sudah memiliki anak.

Dalam perjodohan antara laki-laki dan wanita, ada satu titik yang harus dikejar, yaitu masuklah kamu ke surga bersama isteri-isterimu. Jika suatu saat seorang suami mendapati hal-hal yang tidak disenangi pada isterinya atau sebaliknya, maka hendaklah ia kembali pada konsep Islam. “Jika kamu tidak senang pada sesuatu hal, maka di sana boleh jadi ada sesuatu yang baik bagi kamu.” Jadi, kalau ada akhlak sang isteri yang tidak disenanginya atau sebaliknya, maka sesungguhnya yang disenanginya jauh lebih banyak daripada yang tidak disenanginya. Sesungguhnya Allah dalam menjodohkan antara laki-laki dan wanita sudah pasti dengan banyak kecocokan yang harus dijaga bersama dengan mengikuti aturan Allah dan Rasul-Nya. Kalau ada sesuatu hal yang menjengkelkan, maka hal itu harus disikapi sebagai ujian. Seharusnya suami atau istri harus menyikapi hal ini dengan bersikap sabar dan tawakkal.

Allah telah banyak mengibaratkan laki-laki dan perempuan sebagai pakaian. Gambaran tentang pakaian di sini adalah bahwa pakaian itu selalu kita pakai, yang harus dipelihara dengan sebaik-baiknya. Kalau pakaian sudah tampak kotor, maka segeralah dicuci lalu diseterika sehingga kelihatan bagus kembali. Sekalipun pakaian sudah berumur lama, kalau kita merawatnya, maka akan kelihatan seperti baru. Sebaliknya, kalau kita tidak merawat pakaian tersebut dengan baik, maka pakaian itu akan lusuh, cepat rusak, warnanya cepat luntur, sehingga kita akan merasa enggan memakainya lagi.

Dengan demikian, suami isteri harus saling memelihara, sehingga setiap penampilannya akan selalu menyenangkan. Jangan sampai kita mempunyai perasaan tidak memerlukan pakaian lagi, sehingga baru beberapa hari dipakai sudah dibuang karena bosan, yang selanjutnya mempunyai kebiasaan kawin cerai berkali-kali. Rasulullah Saw. bersabda, “Allah melaknat laki-laki dan perempuan yang tukang mencicipi.”

TIGA. Suami harus menyenangkan isteri. Jangan terlalu tegang, sesekali harus diselingi guyonan, cubitan, termasuk juga bahasa-bahasa guyonan yang bisa menghilangkan ketegangan. Rasulullah Saw. bersabda, “Ada hal-hal yang sepertinya tidak ada faedahnya, tetapi cepat mendapat pahala, yaitu muda’abatur rojul zaujatahu (suami yang yang mengajak istri bermain dalam berbahasa atau dalam perbuatan).

EMPAT. Jika suami mencemburui isteri hendaknya yang wajar-wajar saja. Bisa jadi karena terlalu cinta pada isteri sehingga suami mempunyai rasa cemburu pada isteri secara berlebihan yang tidak berdasar. Hal ini termasuk perbuatan tercela. Kecemburuan yang tidak disertai dengan data yang obyektif jelas dapat memutuskan tali percintaan. Rasulullah Saw. bersabda, “Di antara cemburu itu ada yang dibenci Allah yaitu kecemburuan pada isterinya tanpa hal-hal yang mencurigakan.”

LIMA. Suami harus santun dalam berbicara dengan isteri. Berbicara dengan isteri harus dengan uslub yang halus dan terdidik, jangan sampai menyakitkan hati. Kalimat yang bagus akan berpengaruh dalam jiwa dan perasaan hati. Kalau kebetulan suami mempunyai gaya bicara yang kasar, hendaknya hal itu diberitahukan kepada isterinya. Yakinkan bahwa hati suami tidak sekasar bicaranya.

ENAM. Suami memberi nafkah pada isteri, yang sedang-sedang saja, tidak terlalu boros dan tidak terlalu kikir. Menurut fiqih, cara terbaik dalam menafkahi istri adalah yaumiyah (harian). Hal ini berkaitan dengan kemungkinan terjadi nusyuz (pembangkangan seorang isteri). Jika suatu hari isteri berbuat nusyuz, maka isteri tidak berhak mendapatkan nafaqoh pada hari itu. Dalam realitasnya, cara memberi nafkah itu ada yang usbu’iyah (mingguan), syahriyah (bulanan). Berkaitan dengan cara penafkahan ini hendaklah dipilih mana yang menjadi kelegaannya. Yang jelas, suami berkewajiban menafkahi istrinya.

TUJUH. Suami hendaknya berpenampilan bagus di hadapan isterinya, sehingga tidak kelihatan membosankan. Hal itu berarti segalanya harus tertata rapi, tidak morat-marit. Isteri yang mengerti kebersihan akan membawa kesenangan tersendiri, maka tidak melihat isteri pada suami kecuali keindahan, dan tidak mencium kecuali bau yang enak. Rasulullah Saw. bersabda, “Cucilah baju-bajumu, dan potonglah rambutmu, bersiwaklah, berhiaslah, dan berbersihlah. Sesungguhnya Bani Israil tidak berbuat demikian, maka berzinalah isteri-isteri mereka.”

DELAPAN. Suami hendaknya menjaga rahasia kehidupan dalam rumah tangga. Jadi, masalah rumah tangga jangan keluar sembarangan pada orang lain. Yang paling tidak benar adalah menceritakan saat “kumpul” dengan isterinya kepada temannya. Rasulullah Saw. bersabda, “Termasuk orang yang paling buruk kedudukannya di Hari Kiamat yaitu seseorang yang mendatangi isterinya di malam hari kemudian menceritakannya.”

SEMBILAN. Suami harus menunjukkan sikap sebagai seorang laki-laki. Rasulullah Saw. bersabda, “Mudah-mudahn Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian dan bertingkah laku seperti perempuan.” Misalnya, harus menafkahi, tidak malas bekerja. Di samping itu, suami jangan keterlaluan dalam menampakkan kelaki-lakiannya, seperti menerapkan sistem militer dalam rumah tangga.

Jadi, letakkan suatu itu pada tempatnya. ungkapan hikmah mengatakan, “Kamu jangan terlalu keras, maka mudah dipatahkan dan kamu jangan terlalu lunak, maka mudah diperas. Sikap yang terlalu lunak akan menghilangkan haibah (kewibawaan). Bercanda (guyon) yang berlebihan (di semua tempat) juga bisa menghilangkan haibah. Rasulullah Saw. juga pernah guyon. Ada seseorang bernama Nu’aim ditutup matanya oleh Rasulullah Saw. dari belakang sambil berkata, “Siapa yang mau beli budak?” Kata Nu’aim, “Saya bukan budak.” Kemudian Nu’aim menoleh, “Ya Rasulullah, siapa yang membeli saya?” Jawab Rasulullah, “Kamu dibeli oleh Allah (masuk surga).” Jadi, seseorang harus tahu, kapan serius dan kapan guyon.

Sumber: majalah al-Mu’tashim, edisi Maret 2008 dengan beberapa editingImage

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s